Senin, 24 Oktober 2011

Penyakit syaraf


Pengertian Sistem Saraf
Sistem saraf pusat (SSP) meliputi otak (bahasa Latin: 'ensephalon') dan sumsum tulang belakang (bahasa Latin: 'medulla spinalis'). Keduanya merupakan organ yang sangat lunak, dengan fungsi yang sangat penting maka perlu perlindungan. Selain tengkorak dan ruas-ruas tulang belakang, otak juga dilindungi 3 lapisan selaput meninges. Bila membran ini terkena infeksi maka akan terjadi radang yang disebut meningitis.
Ketiga lapisan membran meninges dari luar ke dalam adalah sebagai berikut:
  1. Durameter; terdiri dari dua lapisan, yang terluar bersatu dengan tengkorak sebagai endostium, dan lapisan lain sebagai duramater yang mudah dilepaskan dari tulang kepala. Di antara tulang kepala dengan duramater terdapat rongga epidural.
  2. Arachnoidea mater; disebut demikian karena bentuknya seperti sarang labah-labah. Di dalamnya terdapat cairan yang disebut liquor cerebrospinalis; semacam cairan limfa yang mengisi sela sela membran araknoid. Fungsi selaput arachnoidea adalah sebagai bantalan untuk melindungi otak dari bahaya kerusakan mekanik.
  3. Piameter. Lapisan terdalam yang mempunyai bentuk disesuaikan dengan lipatan-lipatan permukaan otak.
Otak dan sumsum tulang belakang mempunyai 3 materi esensial yaitu:
  1. badan sel yang membentuk bagian materi kelabu (substansi grissea)
  2. serabut saraf yang membentuk bagian materi putih (substansi alba)
  3. sel-sel neuroglia, yaitu jaringan ikat yang terletak di antara sel-sel saraf di dalam sistem saraf pusat
Walaupun otak dan sumsum tulang belakang mempunyai materi sama tetapi susunannya berbeda. Pada otak, materi kelabu terletak di bagian luar atau kulitnya (korteks) dan bagian putih terletak di tengah. Pada sumsum tulang belakang bagian tengah berupa materi kelabu berbentuk kupu-kupu, sedangkan bagian korteks berupa materi putih.
1. Otak
Otak mempunyai lima bagian utama, yaitu: otak besar (serebrum), otak tengah (mesensefalon), otak kecil (serebelum), sumsum sambung (medulla oblongata), dan jembatan varol.
a. Otak besar (serebrum)
Otak besar mempunyai fungsi dalam pengaturan semua aktifitas mental, yaitu yang berkaitan dengan kepandaian (intelegensi), ingatan (memori), kesadaran, dan pertimbangan.
Otak besar merupakan sumber dari semua kegiatan/gerakan sadar atau sesuai dengan kehendak, walaupun ada juga beberapa gerakan refleks otak. Pada bagian korteks serebrum yang berwarna kelabu terdapat bagian penerima rangsang (area sensor) yang terletak di sebelah belakang area motor yang berfungsi mengatur gerakan sadar atau merespon rangsangan. Selain itu terdapat area asosiasi yang menghubungkan area motor dan sensorik. Area ini berperan dalam proses belajar, menyimpan ingatan, membuat kesimpulan, dan belajar berbagai bahasa. Di sekitar kedua area tersebut dalah bagian yang mengatur kegiatan psikologi yang lebih tinggi. Misalnya bagian depan merupakan pusat proses berfikir (yaitu mengingat, analisis, berbicara, kreativitas) dan emosi. Pusat penglihatan terdapat di bagian belakang.


2. Otak tengah (mesensefalon)
Otak tengah terletak di depan otak kecil dan jembatan varol. Di depan otak tengah terdapat talamus dan kelenjar hipofisis yang mengatur kerja kelenjar-kelenjar endokrin. Bagian atas (dorsal) otak tengah merupakan lobus optikus yang mengatur refleks mata seperti penyempitan pupil mata, dan juga merupakan pusat pendengaran.


3. Otak kecil (serebelum)
Serebelum mempunyai fungsi utama dalam koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar, keseimbangan, dan posisi tubuh. Bila ada rangsangan yang merugikan atau berbahaya maka gerakan sadar yang normal tidak mungkin dilaksanakan.
4. Jembatan varol (pons varoli)
Jembatan varol berisi serabut saraf yang menghubungkan otak kecil bagian kiri dan kanan, juga menghubungkan otak besar dan sumsum
tulang belakang.
5. Sumsum sambung (medulla oblongata)
Sumsum sambung berfungsi menghantar impuls yang datang dari medula spinalis menuju ke otak. Sumsum sambung juga mempengaruhi jembatan, refleks fisiologi seperti detak jantung, tekanan darah, volume dan kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan, dan sekresi kelenjar pencernaan.
Selain itu, sumsum sambung juga mengatur gerak refleks yang lain seperti bersin, batuk, dan berkedip.


6. Sumsum tulang belakang (medulla spinalis)
Pada penampang melintang sumsum tulang belakang tampak bagian luar berwarna putih, sedangkan bagian dalam berbentuk kupu-kupu dan berwarna kelabu.
Pada penampang melintang sumsum tulang belakang ada bagian seperti sayap yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk dorsal dan sayap bawah disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor dihantar masuk ke sumsum tulang belakang melalui tanduk dorsal dan impuls motor keluar dari sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada tanduk dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor) yang akan menerima impuls dari sel saraf sensori dan akan menghantarkannya ke saraf motor.
Pada bagian putih terdapat serabut saraf asosiasi. Kumpulan serabut saraf membentuk saraf (urat saraf). Urat saraf yang membawa impuls ke otak merupakan saluran asenden dan yang membawa impuls yang berupa perintah dari otak merupakan saluran desenden.








Fungsi Saraf
1. Menerima informasi (rangsangan) dari dalam maupun dari luar tubuh melalui saraf sensori . Saraf sensori disebut juga Afferent Sensory Pathway.
2. Mengkomunikasikan informasi antara sistem saraf perifer dan sistem saraf pusat.
3. Mengolah informasi yang diterima baik ditingkat medula spinalis maupun di otak untuk selanjutnya menentukan jawaban atau respon.
4. Mengantarkan jawaban secara cepat melalui saraf motorik ke organ-organ tubuh sebagai kontrol atau modifikasi dari tindakan. Saraf motorik disebut juga Efferent Motorik Pathway.
A.Sistem Saraf Pusat
Sistem saraf pusat terdiri atas otak dan medula spinalis. SSP dibungkus oleh selaput meningen yang berfungsi untuk melindungi otak dan medula spinalis dari benturan atau trauma. Meningen terdiri atas tiga lapisan yaitu durameter, arachnoid dan piamater.
a.Rongga Epidural
Berada diantara tulang tengkorak dan durameter. Rongga ini berisi pembuluh darah dan jaringan lemak yang berfungsi sebagai bantalan. Bila cidera mencapai lokasi ini akan menyebabkan perdarahan yang hebat oleh karena pada lokasi ini banyak pembuluh darah sehingga mengakibatkan perdarahan epidural
b.Rongga Subdural
Berada diantara durameter dan arachnoid, rongga ini berisi berisi cairan serosa.
c.Rongga Sub Arachnoid
Terdapat diantara arachnoid dan piameter. Berisi cairan cerebrospinalis yang salah satu fungsinya adalah menyerap guncangan atau shock absorber. Cedera yang berat disertai perdarahan dan memasuki ruang sub arachnoid yang akan menambah volume CSF sehingga dapat menyebabkan kematian sebagai akibat peningkatan tekanan intra kranial (TIK).

1.Sirkulasi Darah pada Sistem Saraf Pusat
Sirkulasi darah pada sistem saraf terbagi atas sirkulasi pada otak dan medula spinalis. Dalam keadaan fisiologik jumlah darah yang dikirim ke otak sebagai blood flow cerebral adalah 20% cardiac out put atau 1100-1200 cc/menit untuk seluruh jaringan otak yang berat normalnya 2% dari berat badan orang dewasa. Untuk mendukung tercukupinya suplai oksigen, otak mendapat sirkulasi yang didukung oleh pembuluh darah besar.
Suplai Darah Otak
1. Arteri Carotis Interna kanan dan kiri
– Arteri communicans posterior
Arteri ini menghubungkan arteri carotis interna dengan arteri cerebri posterior
– Arteri choroidea anterior, yang nantinya membentuk plexus choroideus di dalam ventriculus lateralis
– Arteri cerebri anterrior
Bagian ke frontal disebelah atas nervus opticus diantara belahan otak kiri dan kanan. Ia kemudian akan menuju facies medialis lobus frontalis cortex cerebri. Daerah yang diperdarahi arteri ini adalah: a) facies medialis lobus frontalis cortex cerebro, b) facies medialis lobus parietalis, c) facies convexa lobus frontalis cortex cerebri, d) facies convexa lobus parietalis cortex cerebri, e) Arteri cerebri media
– Arteri cerebri media
2. Arteri Vertebralis kanan dan kiri
Arteri Cerebri Media
Berjalan lateral melalui fossa sylvii dan kemudian bercabang-cabang untuk selanjutnya menuju daerah insula reili. Daerah yang disuplai darah oleh arteri ini adalah Facies convexa lobus frontalis coretx cerebri mulai dari fissura lateralis sampai kira-kira sulcus frontalis superior, facies convexa lobus parielatis cortex cerebri mulai dari fissura lateralis sampai kira-kira sulcus temporalis media dan facies lobus temporalis cortex cerebri pada ujung frontal.
Arteri Vertebralis kanan dan kiri
Arteri vertebralis dipercabangkan oleh arteri sub clavia. Arteri ini berjalan ke kranial melalui foramen transversus vertebrae ke enam sampai pertama kemudian membelok ke lateral masuk ke dalam foramen transversus magnum menuju cavum cranii. Arteri ini kemudian berjalan ventral dari medula oblongata dorsal dari olivus, caudal dari tepi caudal pons varolii. Arteri vertabralis kanan dan kiri akan bersatu menjadi arteri basilaris yang kemudian berjalan frontal untuk akhirnya bercabang menjadi dua yaitu arteri cerebri posterior kanan dan kiri. Daerah yang diperdarahi oleh arteri cerbri posterior ini adalah facies convexa lobus temporalis cortex cerebri mulai dari tepi bawah sampai setinggi sulcus temporalis media, facies convexa parietooccipitalis, facies medialis lobus occipitalis cotex cerebri dan lobus temporalis cortex cerebri. Anastomosis antara arteri-arteri cerebri berfungsi utnuk menjaga agar aliran darah ke jaringan otak tetap terjaga secara continue. Sistem carotis yang berasal dari arteri carotis interna dengan sistem vertebrobasilaris yang berasal dari arteri vertebralis, dihubungkan oleh circulus arteriosus willisi membentuk Circle of willis yang terdapat pada bagian dasar otak. Selain itu terdapat anastomosis lain yaitu antara arteri cerebri media dengan arteri cerebri anterior, arteri cerebri media dengan arteri cerebri posterior.
B.Sistem Saraf Tepi
Kumpulan neuron diluar jaringan otak dan medula spinalis membentuk sistem saraf tepi (SST). Secara anatomik digolongkan ke dalam saraf-saraf otak sebanyak 12 pasang dan 31 pasang saraf spinal. Secara fungsional, SST digolongkan ke dalam: a) saraf sensorik (aferen) somatik : membawa informasi dari kulit, otot rangka dan sendi, ke sistem saraf pusat, b) saraf motorik (eferen) somatik : membawa informasi dari sistem saraf pusat ke otot rangka, c) saraf sesnsorik (eferen) viseral : membawa informasi dari dinding visera ke sistem saraf pusat, d) saraf mototrik (eferen) viseral : membawa informasi dari sistem saraf pusat ke otot polos, otot jantung dan kelenjar. Saraf eferen viseral disebut juga sistem saraf otonom.Sistem saraf tepi (Perifer) meliputi saraf kranial, saraf spinal, dan saraf otonom.
a.Saraf  kranial
Saraf-saraf kranial merupakan saraf yang datang dari batang otak. Jumlah saraf ini ada dua belas, sepuluh di antaranya (saraf III-X) berasal langsung dari batang otak. Saraf-saraf ini terdiri dari N. olfaktori (I), N. optikus (II), N. okulomotoris (III), N. troklearis (IV), N. trigeminus (V), N. abducens (VI), N. facialis (VII), N. vestibulokoklearis (VIII), N. glosofaringeus (IX), N. vagus (X), N. asesorius (XI), dan N. hipoglosus (XII). Digolongkan secara arah penghantaran impulsnya, saraf I, II, dan VIII merupakan berkas saraf sensoris, saraf III, IV, VI, XII merupakan saraf motoris, sedangkan saraf V, VII, IX, X, dan XI merupakan saraf sensoris-motoris.
No
Saraf
Sensoris/motoris
Nuklei
Fungsi
I
Olfaktori
Sensoris
Nuklei olfaktori anterior
Mentransmisikan informasi penciuman
II
Optikus
Sensoris
Nuklei geniculate lateral
Mentransmisikan informasi pendengaran
III
Okulomotoris
Motoris
Nuklei okulomotor, nuklei Edinge-Westphal
Mengatur pergerakan bola mata
IV
Troklearis
Motoris
Nuklei troklear
Depresi dan rotasi lateral bola mata
V
Trigeminus
Sensoris-motoris
Nuklei trigeminal
Menerima sensasi bagian wajah
VI
Abducens
Motoris
Nuklei abducens
Mempersarafi rektus larteral yang menjauhi mata
VII
Facialis
Sensoris-motoris
Nuklei facialis
Menerima sensasi 2/3 bagian lidah dan mempersarafi kelenjar saliva
VIII
Akustikus
Sensoris
Nuklei vestibular, nuklei koklear
Sensitif terhadap bunyi, rotasi dan gravitasi
IX
Glosofaringeus
Sensoris-motoris
Nuklei ambiguus, nuklei saliva inferior, nuklei solitari
Menerima sensasi 1/3 bagian lidah, mempersarafi kelenjar parotis
X
Vagus
Sensoris-motoris
Nuklei ambiguus, nuklei motor vagal dorsal, nuklei solitari
Mempersarafi laringeal dan faringeal, mempersarafi secara parasimpatis visera toraks dan abdominal
XI
Asesorius
Sensoris-motoris
Nuklei ambiguus, nuklei asesoris spinal
Mengontrol pergerakan leher
XII
Hipoglosus
Motoris
Nuklei hipoglossal
Mempersarafi lidah, penting untuk mengunyah dan artikulasi
b.Saraf spinal
Saraf-saraf spinal merupakan saraf yang datang dari korda spinalis. Saraf spinal secara umum terdiri dari saraf aferen dan eferen, di mana serabut untuk saraf aferen berupa dua serabut dorsal yang keluar dari substansi grisea, dan saraf eferen berupa empat serabut ventral yang keluar dari substansi alba. Saraf spinal terdiri dari 8 pasang saraf bagian servikal, 12 pasang saraf bagian torakal, 5 pasang saraf bagian lumbal, 5 pasang saraf bagian sakral, dan 1 pasang saraf bagian koksigeal.
c.Saraf otonom
Saraf otonom terdiri atas neuron yang terdapat pada susunan saraf pusat dan berhubungan dengan ganglion otonom. Jalur saraf otonom yang berjalan dari susunan saraf pusat terdiri dari dua neuron, yaitu neuron praganglion dan neuron pascaganglion. Saraf otonom dibagi menjadi saraf simpatis (terletak di daerah torakolumbal) dan saraf parasimpatis (terletak di daerah kranial dan sakral). Saraf simpatis ditujukan untuk situasi darurat dan aktifitas yang memerlukan tenaga besar, sedangkan saraf parasimpatis ditujukan untuk situasi yang tenang/rileks serta aktifitas umum seperti mencerna.

MACAM PENYAKIT PADA SISTEM SARAF
Penyakit berat seperti diabetes, kanker, stroke atau jantung sudah banyak diketahui orang. Tapi sebenarnya masih ada penyakit lainnya yang terbilang langka. 5 penyakit paling langka di dunia yang terbanyak berhubungan dengan saraf:
1. Progressive Multifocal Leukoencephalopathy (PML)
PML adalah gangguan saraf yang ditandai dengan penghancuran myelin, yaitu selubung pelindung yang mengelilingi serabut saraf pada sistem saraf pusat dan sumsum tulang belakang.
Penyakit ini disebabkan oleh virus JC. Virus ini ditemukan pada 85 persen populasi dewasa pada umumnya, tapi virus ini tetap tidak aktif selama orang tetap sehat dan sistem kekebalan kuat. PML terjadi pada 1 dari 200.000 orang.
2. Paraneoplastic Neurologic Syndromes (PNS)
PNS adalah kondisi yang mempengaruhi sistem saraf, yaitu otak, sumsum tulang belakang, saraf juga otot. Istilah ‘paraneoplastic’ berarti sindrom saraf tidak disebabkan oleh tumor sendiri, tapi oleh reaksi kekebalan tubuh yang menghasilkan tumor tersebut. Pada banyak pasien, respons imun dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf yang jauh melebihi kerusakan yang dilakukan tumor.
3. Penyakit Dercum
Penyakit dercum adalah gangguan yang jarang terjadi, ditandai dengan beberapa pertumbuhan jaringan lemak (lipoma) yang menyakitkan. Pertumbuhan ini biasanya terjadi di tangan, lengan atas, kaki bagian atas, juga di bawah kulit (subkutan).
Penyakit Dercum sering menyebabkan rasa sakit yang luar biasa. Dalam beberapa kasus, individu yang terkena mungkin juga mengalami kenaikan berat badan, depresi, kelesuan, dan kebingungan. Penyebab pasti dari penyakit Dercum yang tidak diketahui.
4. Penyakit Fahr
Penyakit Fahr merupakan gangguan saraf degeneratif yang jarang terjadi. Ini dicirikan dengan deposit kalsium abnormal (kalsifikasi) dan hilangnya sel yang terkait di daerah tertentu dari otak, seperti ganglia basal.
Penyakit Fahr dapat menyebabkan kerusakan kemampuan kognitif (demensia), hilangnya kemampuan motorik, kekakuan otot, kelumpuhan dan bahkan kebutaan.
5. Penyakit Devic
Penyakit Devic atau Neuromyelitis Optica adalah gangguan kronis jaringan saraf ditandai oleh peradangan pada saraf optik (optik neuritis) dan peradangan pada saraf tulang belakang (mielitis). Pada tahap awal, gejala penyakit Devic mungkin sama dengan multiple sclerosis.















PATOFISIOLOGI

Perubahan-perubahan apakah yang terjadi pada susunan saraf pusat (otak) pasien skizofrenia ?
Penelitian mutakhir menyebutkan bahwa perubahan-perubahan pada neurotransmiter dan resptor di
sel-sel saraf otak (neuron) dan interaksi zat neurokimia dopamin dan serotonin, ternyata
mempengaruhi alam pikir, perasaan, dan perilaku yang menjelma dalam bentuk gejala-gejala positif
dan negatif skizofrenia.
Selain perubahan-perubahan yang sifatnya neurokimiawi di atas, dalam penelitian dengan
menggunakan CT Scan otak, ternyata ditemukan pula perubahan pada anatomi otak pasien, terutama
pada penderita kronis. Perubahannya ada pada pelebaran lateral ventrikel, atrofi korteks bagian depan,
dan atrofi otak kecil (cerebellum).
Faktor-faktor penyebabnya Syaraf :
  • Tekanan darah tinggi
  • Penyakit jantung
  • Kencing manis
  • dll
Gejala awal penyakit dimulai dengan kesemutan selsisi tubuh disertai atau tanpa disertai  bicara cadel ( pelo ) yang kadang-kadang hilang timbul tetapi cenderung bertambah berat sampai terjadi lumpuh sesisi tubuh. Penderita seperti ini harus segera dibawa ke rumah sakit untuk tindakan medis.
Penyulit penyakit terjadi apabila sampai terjadi penurunan kesadaran ( koma ) yang memberikan hasil akhir yang merugikan.
Syaraf terjepit disebabkan ketika syaraf entah bagaimana rusak atau terluka oleh tekanan langsung dan tidak mampu untuk melakukan sinyalnya dengan baik. Ada banyak penyebab-penyebab yang berpotensi untuk syaraf, tergantung pada lokasi dari syaraf. Pembengkakan sekitar syaraf dapat disebabkan oleh luka, memar, atau kondisi-kondisi lain, termasuk pembengkakan dari anggota-anggota tubuh yang dapat terjadi dengan kehamilan. Kecenderungan yang diturunkan, seperti yang dimanifestasikan oleh sejarah keluarga dari kondisi serupa, dapat juga meningkatkan kesempatan individu mengembangkan syaraf.


Ciri – ciri  Dari Syaraf
Ciri – ciri dari syaraf  tergantung pada syaraf mana yang terpengaruh. Setiap syaraf bertanggung jawab untuk pengiriman informasi ke atau dari bagian-bagian spesifik tubuh.
Ciri – ciri  yang paling umum dari syaraf terjepit adalah:
  • nyeri,
  • mati rasa,
  • kesemutan, atau
  • kelemahan otot sepanjang alur syaraf.
Sensasi syaraf terjepit mungkin dirasakan seperti, contohnya, sensasi ketika bagian dari tubuh anda telah "jatuh tidur". Syaraf terjepit dapat menyebabkan gejala-gejala pada tempat kerusakan, atau lokasi mana saja lebih jauh menuruni alur dari syaraf yang terpengaruh.
  • Syaraf terjepit pada leher dapat menyebabkan nyeri atau kekakuan leher, bersama dengan gejala-gejala menuruni lengan.
  • Syaraf terjepit pada punggung bagian bawah menyebabkan nyeri dan kekakuan punggung dengan gejala-gejala menuruni tungkai. Dokter dapat seringkali mengidentifikasi syaraf mana yang terjept pada leher atau punggung bagian bawah berdasarkan pada bagian mana dari lengan atau tungkai pasien yang terpengaruh.
  • Syaraf terjepit pada pergelangan tangan dari carpal tunnel syndrome secara khas mempengaruhi ibu jari, jari telunjuk, dan jari-jari tangan tengah. Ia dapat juga menyebabkan kelemahan pada kekuatan menggenggam pasien, dan atrophy dari otot telapak tangan dekat ibu jari. Syaraf terjepit pada siku dari cubital tunnel syndrome mempengaruhi lengan bawah, jari tangan keempat, dan jari-jari tangan kecil.





Data Laboratorium :

Hasil pemeriksaan medis dan laboratorium pasca pengobatan pasien.

Berikut ini beberapa hasil laboratorium yang saya kutip dari buku karya ilmuwan Arab yang tersohor, Muhammad Amin Syaikhu, yang berjudul Ad-Dawa’u ‘l-’Ajib (Obat Ajaib). Dimana, laporan ini dibuat oleh dokter-dokter spesialis terkenal dalam berbagai bidang kedokteran, yang kemudian dihimpun dan diteliti kembali secara medis oleh penulis dan seorang intelektual, ‘Abdul Qodir Yahya, yang terkenal dengan julukan Ad-Dironi.
Laporan Umum Penelitian tentang Pengobatan dengan Metode Bekam Tahun 2001 M
Dibawah konsultan dr. Muhammad Nabil Syarif Mantan Dekan Fakultas Farmasi
Penelitian ini dilakukan berdasarkan metodologi ilmiah yang disimpulkan oleh intelektual besar Arab, Muhammad Amin Syaikhu, dari hadits-hadist Nabi yang mulia Penelitian dilakukan oleh tim laboratorium yang terdiri dari beberapa personal sebagai berikut :
1. dr. Muhammad Nabil Syarif (Dekan Fakultas Farmasi)
2. dr. Ahmad Samir Fauri (Ahli Patologi Klinik dan Laboratorium dari Prancis dan Ketua Ikatan Apoteker Siria)
3. dr. Fayiz Hakim (Ahli Patologi Anatomi dan Patologi Klinis,Amerika)
4. dr. Muhammad Mahjub Geraudy (Ketua Jurusan Laboratorium kedokteran Universitas Damaskus)
5. dr. Muhammad Fuad Jabashini (Ahli Parologi Klinis dan Laboratorium Prancis)
6. dr. Sa’d Yaqub (Ahli Farmasi Rumah Sakit dan Ketua Organisasi Pengiriman Obat D.D.S dari Prancis)
Juga tim kedokteran yang terdiri dari beberapa personal sebagai berikut :
1. dr. Ahmad Tikriti (Dosen Ahli Bedah Jantung Universitas Damaskus)
2. dr. Abdul Malik Syalani (Dosen Penyakit-penyakit Saraf di Universitas Damaskus)
3. dr. Muhyidin Sa’udi (Dosen Pengobatan Kanker dan Tumor di Universitas Damaskus)
4. dr. Abdul Ghoni ‘Arofah (Ketua Komite Anti TBC dan Penyakit Seksual Syiria)
5. dr. Akrom Hajar (Dosen Penyakit THT serta Bedah Kepala danLeher di Universitas Damaskus)
6. dr. Marwan Zahro (Kepala Jurusan Bedah Saraf di Rumah Sakit Tasyrin)
7. dr. Abdul Lathif Yasin (Dosen Tamu di Fakultas Kebidanan di London)
8. dr. Haitsam Habal (Dosen Penyakit dan Bedah Mata di Universitas Damaskus)
9. dr. Ahmad Afif Faur (Kepala Bagian Tumor di Rumah Sakit Ibnu Rusyd)
10. dr. Amin Sulaiman (Dosen Penyakit Darah di Universitas Damaskus)
11. dr. Abdulloh Makki Al-Katani (Konsultan Bedah Umum dari Jerman)
12. dr. Tholal Habusy (Dosen Bedah Mata di Universitas Al-Ba’ts)
13. dr. Ahmad Ghiyats Jabqoji (Dosen Penyakit Saraf di Universitas Istanbul)
Penelitian dilakukan terhadap 300 kasus, maka hasil-hasil penelitian adalah sebagai berikut :
1. Dalam kasus-kasus tekanan darah tinggi, tekanan darah turun hingga mencapai batas-batas normal.
2. Dalam kasus-kasus tekanan darah rendah, tekanan darah naik hingga mencapai batas-batas normal
3. Garis Irama jantung pada EKG menunjukkan perbaikan besar dan kembali kepada konsisi normal dalam irama yang teratur.
4. Penurunan kecepatan aliran darah hinga batas-batas normal
5. Jumlah sel darah merah menjadi normal.
6. Kadar Hemoglobin turun sampai pada batas-batas normal dalam kasus polycythemia (Kadar Hb darah diatas normal, misal 17,5 g/100 mldarah (normal 12-14 g/100 ml) - penerj)
7. Kadar Hemoglobin naik sampai batas-batas normal dalam kasus penurunan kadar hempglobin yang ditandai dengan aktivitas tubuh dan perkembangan kemampuannya dalam memproduksi sel darah merah secara normal, selanjutnya meningkatkan aktivitas dan efektivitas transfer oksigen melaluinya.
8. Jumlah sel-sel darah putih (lekosit) meningkat dalam 60% kasus dan masih dalam batas-batas normal.
9. JUmlah sel-sel darah putih pada penyakit-penyakit paru-paru meningkat 71,4% pada beberapa kasus. Ini menunjukkan kesembuhan yang cepat bagi para pengidap rheumatism dan infeksi-infeksi kronis setelah
adanya pembekaman.
10. Jumlah polimorfonuklear meningkat dalam batas-batas normal dalam 100% kasus penyakit paru-paru.
11. jumlah polimorfonuklear menurun hingga batas-batas normal.
12. Jumlah enzim liver turun pada gangguan-gangguan liver dalam 76,9% kasus dan hal itu masih dalam batas-batas wajar.
13. Jumlah seruloplasmin naik dalam 50,6% kasus.
14. Jumlah seruloplasmin naik hingga batas-batas normal dalam 100% kasus kekurangan dari batas-batas normal.
15. Jumlah seruloplasmin turun hingga batas-batas normal dalam 10% kasus kelebihan dari batas-batas normal.
16. Kadar gula darah pada 83,75% kasus turun, sedangkan sisanya tetap pada batas-batas wajar.
17. Kadar gula darah turun pada para pengidap kencing manis dalam 92,5% kasus.
18. Jumlah sel-sel dariah merah (eritrosit) maupun sel-sel darah putih dalam darah turn dalam 66,66% kasus
19. Jumlah sel-sel darah merah meupun sel-sel darah putih naik dalam darah bekam pada semua kasus.
20. Jumlah sel-sel darah merah dan sel-sel darah putih turun pada 78,47% kasus.
21. Jumlah asam urat di darah turun pada 66,66% kasus
22. Jumlah asam urat di darah turun pada 83,68% kasus.
23. Jumlah asam urat di darah turn pada 50,7% kasus
24. Jumlah asam urat di darah turun pada 80% kasus.
25. Enzim liver SGPT turun pada 80% kasus, dimana SGPT menunjukkan aktivitas liver.
26. Enzim SGOT turun pada 80% kasus, ini menunjukkan perbaikan yang terjadi pada gerakan irama jantung.
27. Enzim liver turun pada 62,85% kasus
28. Kadar Amylase darah turun dalam 54,9% kasus
29. Kadar Albumin dalam darah turun dalam 100% kasus dan sampai pada batas-batas normal.
30. Kadar kolesterol dalam darah turun dalam 81,9% kasus.
31. kadar kolesterol dalam darah turun pada 75% kasus
32. kadar lemak trigliserida turun dalam 75% kasus
33. Ion-ion K dan Na kembali pada kadar normalnya dalam 90% kasus
34. Ion-ion Ca kembali normal dalam 90% kasus
35. CPK turun dalam 66,66% kasus
36. Seluruh sel darah merah dalam darah bekan pada tengkuk berbentuk aneh : Hypochromasia, Burr, Target, Crenated, Spherocytes, Poicilocytes, Shistocytes, Teardropcelles, Acanthocytes.
37. Jumlah sel-sel darah putih di darah bekam hanya 10% dari jumlah sel-sel darah putih yang ada di darah yang ada di pembuluh, ini menunjukkan bahwa bekam tetap menjaga unsur-unsur kekebalan (imunitas) tubuh.
38. Kenaikan kadar besi dalam darah pada batas-batas normal pada 66 % kasus
39. Faktor IV, yaitu kalsium yang berperan dalam pembekuan darah sangat tinggi, berkisar antara 411-1057, sementara di dalam darah yang ada di pembuluh berkisar antara 250-400. Ini menunjukkan bahwa adanya sesuatu yang otomatis mencegah keluarnya besi dari celah-celah bekam dan
mempertahankannya di dalam tubuh agar berperran dalam pembentukan sel-sel baru, dan hal ini dibarengi dengan meningkatnya aktivitas proses penyerapan besi dari usus.
40. CPK turun dalam 66,66% kasus
41. CPK menjadi normal dalam 92,4% kasus
42. LDH menjadi normal pada 93,75 kasus.
43. Bentuk eritrosit di darah bekam semuanya tidak normal
44. Jumlah sel-sel darah putih dalam darah bekam hanya sepersepuluh jumlahnya di darah yang ada dalam pembuluh.
Cara Pengobatan :
Caranya cukup mudah yaitu dengan mempersiapkan satu cangkir penuh susu kedelai segar yang kemudian dicampur dengan satu sendok makan madu lebah diaduk-aduk hingga merata. Kemudian diminum oleh orang yang menderita pernyakit saraf secara rutin beberapa kali sehari mudah-mudahan bisa membawa perbaikan pada syaraf penderita penyakit saraf. Zat lesitin, vitamin B1, serta asam glutamat yang terkandung di dalamnya memiliki khasiat/manfaat yang baik untuk gangguan saraf manusia. Jika sakit berlanjut hubungi dokter untuk konsultasi.

Urat Saraf (Multiple Sclerosis)

Daripada takut bermasalah beli jamu obat berbentuk pil, lebih baik kita buat jus sendiri, lebi aman. Kali ini Jamumanjur membahas Multiple sclerosis merupakan penyakit pada sumsum tulang belakang dan otak. Penyakit ini terjadi karena adanya bercak-bercak yang mengeras pada otak karena gangguan menahun pada susunan urat saraf. Penderita merasa lemah, bahkan bisa meng-akibatkan kebutaan separuh pada satu mata atau penglihatan rangkap. Apabila otak yang terkena, penderita akan mengalami kejang atau lumpuh separuh badan dan mudah menangis.
Penyakit ini sering terjadi karena lemahnya susunan saraf dan otak (cerebrospinal) karena berbagai sebab, seperti kekurangan gizi, terlalu banyak mengonsumsi makanan yang sudah diproses dan daging. Minum sari buah dan sayuran serta mengonsumsi makanan segar sangat menolong penderita penyakit ini.
Resep Jus :
pagi : Wortel I gelas, Bayam ½ gelas
Siang : Wortel I gelas, Celery ½ gelas, Peterseli ¼ gelas
Sore : Wortel I gelas, Peterseli 3 gelas
Malam : Wortel I gelas, Celery ½ gelas, Bayam 1/3 gelas

Nyeri Urat Saraf (Neuralgia)
Neuralgia atau nyeri urat saraf adalah rasa nyeri yang timbul berkala di daerah saraf perasa yang sering juga disebut dengan algesia. Sebenarnya neuralgia merupakan gejala suatu penyakit, bukanlah penyakit itu sendiri. Hal ini disebabkan urat saraf tidak mendapat kebutuhan gizi yang cukup.
Resep Jus :
Pagi : Wortel I gelas, Bayam ½ gelas
Siang : Wortel I gelas, Celery ½ gelas
Sore : Wortel I gelas, Beet 1/3 gelas, Mentimun 1/3 gelas
Malam : Wortel I gelas, Celery ½ gelas, Peterseli ¼ gelas
Radang Urat Saraf (Neuritis)
Neuritis adalah penyakit peradangan urat saraf. Penyebabnya antara lain terjadinya kerusakan pada saraf, adanya gangguan metabolisme, dan saraf yang keracunan.
Neuritis terjadi karena zat asam uric (uric acid) berubah menjadi kristal-kristal yang menimbulkan rasa sangat nyeri. Makanan daging adalah salah satu faktor penyebabnya. Menu makanan sehat yang banyak mengandung vita¬min akan cepat menolong si penderita.
Resep Jus :
Pagi : Wortel I gelas, Beet 1/3 gelas, Mentimun 1/3
Siang : gelas Wortel I, gelas Bayam 1/2 gelas
Sore : Wortel I gelas, Celery ½ gelas Peterseli ¼ gelas
Malam : Buah Delima ¼ gelas

Daftar Pustaka

Budi Ana Keliat, Peran Serta Keluarga Dalam Perawatan Klien Gangguan Jiwa, Buku Kedokteran,
1992
Antai Otong Deborah (1995). Psychiatric Nursing. Philadelphia : W.B. Company
Gestrude K. Mc. Farland (1991). Psychiatric Mental Health Nursing. Philadelphia : J. B. Lippincot Company
W.E., Maramis, Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga Press, Surabaya, 1990
John Santrock, Psychology The Sciences of Mind and behavior, University of dallas, Brown Publiser , 1999
Hunsberg and Abderson (1989). Psychiatric Mental Health Nursing, Philadelphia : W.B. Saunders Company.
Clinton and Nelson, Mental Health Nursing Practice, Prentice hall Australia, Pty Ltd. 1996
Stuart Sundeen, Pocket Guide to Psychiatric Nursing, Mosby year 1995
Stuart Sundeen, Psychiatric Nursing, Mosby year, 1995
Antai otong (1994) Psychiatric Nursing : Biological and Behavioral Concepts. Philadelpia: W B Saunders
Company
Lefley (1996). Family Caregiving in Mental Illness. London : SAGE Publication
Maccoby, E, 1980, Social Development, Psychological Growth and the Parent Child Relationship, Harcourt
Jovanovich, Newyork
Stuart GW Sundeen, 1995, Principle and practice of Psychiatric Nursing, Mosby Year Book, St. Louis, ,
Hurlock, 1999, Psikologi Perkembangan, Erlangga, Jakarta
http://senyawa-kimia.blogspot.com/2009/12/sistem-saraf-pusat.html/ diakses  24 oktober 2011
http://greenatura.com/gn/Thibbun-Nabawi/Hasil-Laboratorium.php/diakses 24 oktober 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar